Ke bawah lagi: Turun. Lalu asyik membuka tabloid. XNXX Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Napasnya tersengal. Hitam. Pasti terburu-buru. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Nampak ada perubahan besar pada Hawin. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ke bawah lagi: Tidak. Tunggu apa lagi. Garis setrikaannya masih terlihat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Badannya berbalik lalu melangkah. Kuusap sisa cream. Kali ini dengan telapak tangan. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Napasnya tersengal. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Hawin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon.


















